Beranda » UNVR Turun 3 Hari, Yuk Cek Strategi Perusahaannya!

UNVR Turun 3 Hari, Yuk Cek Strategi Perusahaannya!

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG melorot lagi 0,37% ke 6.012,06 pada Kamis (24/6). Beberapa saham big cap yang memerah dan menekan IHSG.

Kemarin, dari 12 saham big cap yang berkapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun, 5 saham diantaranya melemah, 5 saham menguat dan 2 saham lain stagnan harganya.

Saham big cap yang naik selama 3 hari berturut: EMTK. Saham big cap yang turun 3 hari beruntun: UNVR.

Saham big cap dengan kenaikan market cap tertinggi harian, Kamis 24 Juni 2021:

  • EMTK (1,60% | Rp 155,44 triliun)
  • BBRI (1,27% | Rp 487,22 triliun)
  • HMSP (0,90% | Rp 130,85 triliun)

Saham big cap dengan penurunan market cap harian terdalam, Kamis 24 Juni 2021:

  • TLKM (-3,56% | Rp 321,95 triliun)
  • CPIN (-2,38% | Rp 100,84 triliun)
  • BMRI (-0,83% | Rp 276,04 triliun)

Saham big cap dengan kenaikan market cap mingguan tertinggi (Kamis, 24 Juni 2021 vs Kamis, 17 Juni 2021):

  • EMTK (9,48% | Rp 155,44 triliun)
  • TPIA (3,92% | Rp 177,44 triliun)

Saham big cap dengan presentase penurunan market cap mingguan terdalam (Kamis, 24 Juni 2021 vs Kamis, 17 Juni 2021):

  • CPIN (-3,91% | Rp 100,84 triliun)
  • BMRI (-3,63% | Rp 276,04 triliun)
  • ASII (-3,14% | Rp 199,98 triliun)

PT Unilever berusaha akan tetap fokus pada pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis jangka panjang. Arif Hudaya, Direktur Keuangan PT Unilever Indonesia Tbk mengatakan saat ini UNVR memiliki tiga prioritas utama yang dijalani perseroan.

3 prioritas tersebut adalah ketersediaan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, keselamatan dan kesejahteraan karyawan, dan berkontribusi pada berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dalam membantu penanganan pandemi Covid-19.

Menyikapi kondisi yang ada dan ditengah masih terjadinya penurunan daya beli masyarakat sebagai dampak dari resesi berkepanjangan, Unilever juga telah menyiapkan sejumlah strategi diantaranya yakni menempatkan perhatian salah satunya pada aspek preferensi harga dan ukuran kemasan yang disesuaikan dengan daya beli masyarakat di masa Covid-19.

“Seperti misalnya dengan meluncurkan Lifebouy sabun cair kemasan Rp 5.000,- (harga rekomendasi) dan Bango kemasan Rp 3.000,- (harga rekomendasi), dan Sahaja sabun pencuci piring kemasan Rp.1.000,- (harga rekomendasi),” ujar nya pada Kamis 24 Juni.

Di samping itu, untuk menjawab kebutuhan konsumen yang terus bergerak dinamis, Unilever juga secara konsisten akan terus meluncurkan berbagai inovasi dan menyediakan produk untuk menjawab preferensi kebutuhan konsumen di masa pandemi ini.

Tak hanya itu, UNVR juga menyiapkan serangkaian inovasi yang di luncurkan perusahaan, baik produk penunjang kebersihan dan kesehatan konsumen seperti Wipol disinfectant spray, Sahaja spray, dan Buavita dengan formulasi baru yang mengandung 100% Vitamin C kebutuhan harian untuk bantu jaga daya tahan tubuh maupun produk yang meningkatkan kebahagiaan konsumen pada saat berada di rumah seperti misalnya produk pada kategori es krim.

“Untuk eskrim kami menghadirkan varian rasa baru dan menikuti trend terkini seperti Cornetto Daifuku yang terinspirasi dari Mochi Jepang dan Cornetto Boba Cheese yang terinspirasi dari minuman Boba,” tambahnya.

Arif bilang, dalam mengantisipasi perubahan pola belanja yang kini serba online, Unilever Indonesia telah melahirkan banyak inovasi di bida digital seperti Unilever Home Delivery, Wall’s Happy Delivery, dan memperkuat jalur e- commerce yakni layanan untuk kebutuhan konsumen.

Selain itu, dalam mengantisipasi perubahan pola belanja yang kini serba online, Unilever Indonesia juga melahirkan banyak inovasi di bidang melalui Unilever Professional.

“Serta juga peluncuran aplikasi Sahabat Warung untuk membantu para mitra pedagang warung agar tetap sehat, selamat dan dapat tetap berjualan,” tutupnya.

Berdasarkan laporan keuangan, penjualan UNVR sepanjang tahun 2020 tercatat naik tipis 0,12% year on year (yoy) menjadi Rp 42,97 triliun.

Sementara itu, laba bersih Unilever turun 3,10% yoy menjadi Rp 7,16 triliun. Hal ini disebabkan kenaikan sejumlah beban, semisal beban pemasaran dan penjualan yang meningkat 7,2% yoy.

rustacomrefas

Kembali ke atas