Beranda » Kenapa sih Industri Kesehatan RI Susah Berkembang?

Kenapa sih Industri Kesehatan RI Susah Berkembang?

Dengan populasi manusia yang mencapai 250 juta jiwa, industri alat kesehatan di negeri ini sebenarnya memiliki potensi yang besar.

Namun sayang, banyak tantangan yang masih harus dihadapi oleh para pemain di industri ini. Mulai dari rantai perizinan yang panjang hingga kurangnya intensif investasi pada sektor manufaktur alkes.

Industri alkes merupakan bagian dari industri kesehatan yang diprediksi meningkat dua kali lipat dalam enam tahun ke depan. Pada tahun 2018 saja, industri kesehatan memiliki valuasi US$ 60,6 miliar dengan compound annual growth rate sekitar 14,9% pada tahun 2012-2018.

Menteri perindustrian bernama Agus Gumiwang mengungkapkan bahwa perkembangan industri kesehatan nasional sangat lah rumit.

Apalagi, dalam perkembangan alat kesehatan serta farmasi. Padahal, menurutnya di sisi produksi, industri kesehatan lokal bisa memproduksi alat kesehatan serta obat – obatan. Namun, tetap saja sulit berkembang.

“Berkaitan dengan industri alat kesehatan dan pharmaceutical memang agak rumit. Ini bukan dari sisi produksinya, industri ini kita mampu,” ungkap Agus dalam rapat kerja dengan Komisi VII, Rabu 8 September 2021.

Yang menjadi masalah utama selama ini adalah dari sisi permintaannya dimana industri alat kesehatan serta farmasi produknya sejauh ini hanya bisa dibeli oleh negara. Agus juga bilang bahwa industri kesehatan masih belum bisa berharap ke pembeli swasta.

“Kata kunci pengembangan industri alat kesehatan dan pharmaceutical adalah negara harus beli. Kita tidak bisa, belum bisa, berharap ke swasta untuk beli hasil industri alat kesehatan dan farmasi,” ungkap Agus.

Komitmen pembelian oleh negara sendiri ini bukan menjadi tupokasi dari Kementrian Perindustrian. Menurut Agus, pihaknya saat ini sedang berfokus untuk menyiapkan barang serta produksinya saja.

“Jadi memang pengembangan ini kata kuncinya negara harus beli. Harus ada komitmen, dan itu bukan di perindustrian. Kami siapkan barangnya aja produksinya aja,” kata Agus.

Misalnya saja, alat kesehatan berupa ventilator. Yang selama ini ventilator tak pernah diproduksi di Indonesia melainkan dilakukan secara impor.

Namun, di masa pandemi seperti ini, saat ventilator menjadi kebutuhan bagi banyak rumah sakit, baru lah industri lokal mulai membuat ventilator demi memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan kepastian pembelian alat itu oleh banyak rumah sakit.

“Contoh aja ventilator, masa semenjak kita dijajah sampai tahun lalu nggak ada satupun industri yang produksi ventilator. Padahal kita kan mampu,” ungkap Agus.

Bahkan, saat ini pun kebutuhan ventilator sudah banyak disuplai oleh produk dalam negeri. Terutama, ventilator yang digunakan untuk ruangan UGD dengan tingkat yang rendah.

“Ventilator dengan grade rendah di ruangan emergency sudah disuplai industri dalam negeri, sebelumnya itu totally 100% itu impor,” papar Agus

rustacomrefas

Kembali ke atas